Suporter Tangguh
"Tahun ini kita gak dapat THR (Tunjangan Hari Raya)" ujarku berbisik sembari menatap matanya
" Tidak apa bang, kita pernah kok tidak punya uang sama sekali" jawabnya tenang dengan senyum
sekelebat haru menyelimuti perasaan mendengar jawabanya, betapa beruntungnya diri ini.
Merupakan potongan percakapan kami, sekira di tahun 2022 ketika pandemi merebak, kami harus menahan harapan memperoleh THR disaat kami juga diterpa krisis keuangan.
Banyak hal yang membuatku takjub dan kagum padamu, khususnya ketika menyikapiku17 Januari 2007, kita sah membangun rumah tangga, pernikahan yang teramat sederhana, tapi syahduh, gimana tidak, group Hadrah Desa Batu Butok yang terkenal itu secara gratis hadir memainkan syair pujian pada Rasulullah setelah akad nikah dan pamanmu yang merupakan Guru (sebutan orang banjar untuk Ustadz) melantunkan syairnya. Saat itu mimpi kita sederhana, dengan menikah muda, kita bertumbuh dengan anak-anak diusia produktif, kamu sebagai Guru dan aku sebagai pengacara yang tetap aktivis.Tahun awal perkawinan memang terasa sulit, jika boleh dikatakan demikian, kita sama-sama masih kuliah, kamu di STIT Ibnu Rusyd Tanah Grogot dan aku di UNIBA Kota Balikpapan, berjarak 4 (empat) jam perjalanan, dengan pekerjaanku sebagai pendamping masyarakat di organisasi non pemerintah dengan gaji yang pas-pasan dibanding dengan kebanyakan orang, Alhamdulillah cukup, karena tidak pernah kamu keluhkan, dan tentu aku bersyukur karena kedua orang tuamu, serta kakak-kakakmu bermurah hati turun tangan mencukupkan.
Ditengah kekuranganku tidak pernah kau keluhkan, selalu kau terima dengan syukur, "Alhamdulillah, ingat juga mama ya bang" selalu terucap olehmu setiap kuberikan nafkah, "anak lelaki itu selamanya milik ibunya, bukan istrinya" kerap kau pertebal dengan kalimat itu, kamu memang pendidik, meski tidak pernah benar-benar menjalankan profesi sebagai guru (resmi), tapi pengetahuanmu kamu curahkan padaku, dan belakangan pada anak-anak.
Lima tahun awal perkawinan merupakan perjalanan kita kembali saling mengenal, tahun ujian, meski menurutku ujian tidak pernah selesai, selalu datang silih berganti dengan berbagai rupa, semakin lama aku semakin mengenalmu, aku bisa memahamimu lewat bahasa tubuh bahkan sorot mata yang kau pendarkan, perlahan, boleh jadi kamu yang lebih banyak melakukan penyesuaian (mengalah), berubah menjadi suporter dalam setiap rencana yang akan kuambil sepanjang tidak merintangi prinsip.
Ketika berencana menjadi Advokat, kamu relakan persediaan tabungan untuk kugunakan, ketika akhirnya disumpah dalam mejalani profesi kamu relakan aku menghabiskan waktu bergelut dengan perkara, begitu juga ketika akhirnya memutuskan membuka kantor "harus rajin dibersihkan tempatnya, karena itu tempat mencari rejeki" ujarmu mengingatkan, begitu juga ketika menjalan profesi sebagai dosen, akhirnya pekerjaan yang saat ini kujalani, dimana akhirnya aku merasakan sepenuhnya menjalani kehidupan sebagai keluarga, rumah yang kutuju ada kamu dan anak-anak.
Kamu bukan sekedar menjadi istri, bahkan menjadikan aku lelaki, dengan prinsipmu "Perempuan tidak meminta seluruh penghasilan, tapi menerima nafkah" dengan prinsip itu, aku benar-benar gagah, karena selain memberi nafkah, aku mendapat kesempatan untuk menjadi pahlawan (hero) keluarga, tidak meminta uang darimu atau memperoleh jatah belanja dari istri, dengan konsep seperti itu aku bisa membelikanmu oleh-oleh buku, membayar listrik, internet, air, sekolah anak-anak, mentraktir belanja. Kau tahu, caramu itu menjadikanku percaya diri dan cakap, dan aku merasakan kehormatan seorang lelaki dan kepala keluarga.
Ach sayangku, 7 Mei 2024, pukul 06.27, kamu membuatku patah hati, aku benar-benar patah hati, betapa pengkhidmatanku terhadapmu teramat sedikit dan pengorbananmu teramat besar padaku, dan tidak kauberikan kesempatan yang cukup untuk aku menunaikan hak-hakmu, kamu pergi. Sayangku, masih kurasakan dibulan-bulan terakhir sebelum kembalimu padaNya, kamu tidak pernah pupus mendukungku dalam melaksanakan tugas dan kewajiban dipekerjaanku saat ini. Sayangku, teringat obrolan kita belakangan ini tentang anak-anak "aku tidak memimpikan anak-anak sekolah ditempat-tempat terbaik, cukup bagiku mereka memiliki akhlak yang baik" katamu halus, mengkoreksiku.
Perjalanan kita tidak mudah, alhamdulillah semua tantangan bisa kita lewati, bahkan ketika aku nyaris karam, kamu tidak pernah menyerah.
Dibalik lelaki tangguh pasti ada perempuan hebat. Dan ketika sang perempuan itu telah berpulang , jangan larut dalam kesedihan ya,karena sang perempuan telah menitipkan anak -anak untuk dibesarkan dengan sekuat-kuatnya dan sehebat-hebatnya semangat ya bung😭
BalasHapusSEMANGAT OMM
BalasHapus