Buntu
Jemariku menari dipapan keyboard mengutak atik kata yang melayang dalam benak menjadi rangkaian kalimat, telah jadi satu kalimat kemudian fikiran terhenti, sebagaimana yang sudah-sudah kalimat tersebut kemudian kuhapus, hingga akhirnya memutuskan jeda, jeda panjang sangat panjang sehingga tidak ada satupun kalimat yang benar-benar mantap menjadi satu pondsi cerita "kreatifitasku benar-benar macet" ujarku.
Dahulu, aku seorang yang suka menulis, menulis apa saja, produktif, berbagai isu, serius, haru, hingga yang mengundang gelak tawa, saat ini aku terjebak dalam kemandekan, kehabisan inspirasi, kehilangan semangat. Pernah berada pada fase, menulis seperti bagian dari hidup, mengalir bersama dengan hela nafas, semangat berderu sebagaimana pompa darah, menulis adalah aku. dan hari ini ketika memulai kata pertama, aku seperti pemula yang belajar tentang bagaimana harus menulis, untuk diketahui, prinsip menulis sederhana "ya menulis", sebagaimana sebuah pesan yang pernah kubaca di masa lalu, ketika ingin menjadi penulis maka menulislah, ketika ingin menjadi guru maka mengajarlah, ketika ingin bertani maka mulailah bercocok tanam, jangan beri alasan antara rencanamu dengan tindakanmu, jika itu yang terjadi maka kamu sedang menjauhkan dirimu dari yang kamu harapkan.
Tidak sadar sudah masuk paragraf tiga, dimulai dari menceritakan tentang rumitnya kembali menulis, jebakan rasa malas, sudah menjadi satu tulisan, boleh jadi tidak patut dibaca, tidak memberikan makna apapun pada siapapun, setidaknya rasa malas yang selama ini menjadi penghalang antara rencana dan tindakan bisa terlewati, tidak mudah, untuk tulisan seperti inipun penuh dengan pengorbanan, mengesampingkan notifikasi dengan gangguan fikiran untuk melihat berita atau larut dalam scroltayangan video singkat yotube atau podcast, series yang jadwal pemutarannya di saat ini, atau kemungkinan ada series baru yang bisa di nikmati.
Terlalu banyak distraksi, boleh dikatakan demikian, atau gampang terganggu dan bersahabat dengan gangguan lebih tepatnya, usaha memulihkan menulis sebagai kebiasaan baik gagal total, tertunda, atau hilang dalam daftar rencana. Tetiba semerbak pertrikor terendus dihidung, aroma tanah yang membumbung ketika mengalami persentuhan dengan air hujan yang jatuh, ada gemericik tipis, seperti alam sedang mengirim pesan hujan akan datang, ya kota ini hampir tidak bermandikan hujan beberapa waktu, boleh jadi lebih dari dua bulan, suara genting yang menggemakan suara air hujan yang jatuh memberi pesan bahagia, pun sekiranya hujan tidak benar-benar turun hari ini, suara suara itu seperti pesan pendahuluan bahwa hujan akan datang dalam waktu dekat, betapa nikmatnya, dupuncak kritis dia jatuh dengan nada ritmis, satu perjumpaan yang indah.
Mungkin segini dulu hari ini, tidak penting, tidak genting, tidak memaksa, setidaknya jadi penanda bahwa aku memulai kembali apa yang pernah dulu kunikmati.

Komentar
Posting Komentar