dangkal dan menyempit

parit-parit semakin menyempit terdesak oleh jalan yang terus dilebarkan, akibat terdesak oleh semakin bertambahnya kendaraan. parit-parit juga semakin dangkal terdesak oleh proyek-proyek cepat saji akibat sistem cepat saji dalam proses tender, bahkan semakin dangkal disebabkan pasir, lumpur akibat bumi yang sudah tidak lagi berpenyangga, hutan semakin habis terdesak oleh kepentingan ekonmi cepat saji, parit semakin mendangkal dan menyempit merupakan metafor terhadap kenyataan semakin dangkal dan menyempitnya manusia terhadap keberlanjutan lingkungan oleh kepentingan kelompok berpunya.
hujan hadir tidak lagi kenal kompromi, dia tidak mau tahu apakah parit yang diciptakan manusia dari proyek cepat saji mampu menampung dirinya karena dangkal dan sempitnya, hujan juga tidak mau tahu bahwa kawasan yang paritnya dangkal dan menyempit adalah kawasan orang yang tidak berpunya. begitu dia datang, habislah mereka, si takberpunya seolah tidak punya hak lagi. mereka telah habis didesak kebutuhan orang-orang berpunya oleh motor, mobil mereka. bahkan trotoar tempat tidak berpunya mengayukan kaki telah hilang bersama semakin dangkal dan sempitnya parit didesak badan mobil yang merengsek dibadan trotoar.
seperti hujan yang tidak mau tahu apakah parit-parit itu mampu manampung muntahan kulminasinya, bagitupula orang berpunya yang dengan seenaknya meminggirkan hak-hak mereka yang dalam negara republik ini dianggap sebagai pemegang kedaulatan tetapi dalam praktek dijadikan korban orang berpunya yang pelan-pelan merebut kedaulatannya.
berada dikedangkalan dan sempit parit, yang kutahu hanya satu ketika hujan memuntahkan air, bukan lagi kesenangan yang kurasakan seperti ketika kecil tetapi sebaliknya kekhawatiran, ketakutan yang membuat kesenangan itu tersingkirkan. akankah parit yang diciptakan oleh kebijakan si berpunya mampu menampung kondensasi air yang muntah? hem ingin kujawab semoga bisa tapi realitas selalu berkata tidak.
diatas bumi yang paritnya sempit dan dangkal ini, tidak lagi dirasakan kenyamanan berselimut tebal, ketika hujan datang. hujan tidak lagi menjadi musik romatis dalam tidur di balik selimut, deruh hujan kini seperti kecaman kepada si tak berpunya untuk menuntut hak kepada si berpunya agar membongkar parit yang sempit dan dangkal serta membenahi semua yang menyebabkan hujan tidak seromantis dulu.

Komentar

Postingan Populer