Age Quod Agis

Bagian II

"Broth surat dari Yayasan untukmu, tadi pagi dititipkan, kamu buat ulah?" Ashar memberikan surat yang masih bersegel kepada Satya sesaat ketika melihat raga kawanya itu melewati pintu kantor Fakultas Ekonomi USa (USa singkatan beken dari Universitas Samboja). "tidak selalu surat yayasan ke dosen karena ulah, gimana kalo isinya saya diangkat jadi dekan?"jawab Satya, yang memantik rasa penasaran Ashar, langkah kakinya mengikuti Satya menuju ruang kerja dosen, yang oleh Satya ruangan tersebut sudah tidak patut lagi. 

karena sedang libur semester, suasana Fakultas Ekonomi nampak lengang, para pejabat dan sebagian dosen sibuk "mengamen" (istilah dosen-dosen senior untuk kegiatan luar kampus yang dapat mensupport pendapatan).  Satya dan Ashar terhitung dosen baru, disaat libur semester mereka cenderung menghabiskan waktu melaksanakan penelitian dalam rangka menunjang kewajiban Tri Dharma Perguruan Tinggi, sesekali turut terlibat kegiatan pengabdian di koperasi atau kelompok-kelompok usaha kecil menegah, atau nimbrung dikegiatan diskusi dan perkaderan mahasiswa. 

"Broth, meski tidak ada yang tidak mungkin, aku menduga isi surat itu bukan tentang pengangkatanmu sebagai dekan atau pejabat teras kampus, mustahil kamu peroleh itu, mengingat sikapmu yang bersebrangan dengan kebijakan pengelolaan USa, yang kaunyatakan terlalu jauh mengurus perkara akademik" selidik Ashar, sembari memperhatikan surat yang masih berada dalam genggaman Satya. 
"Hmmm, aku juga belum tahu tentang apa" Satya juga menduga-duga, pasti terkait dengan surat keberatan yang dia ajukan kepada Yayasan minggu lalu, tapi apa jawabannya dia juga belum tahu, Satya ingin membuka sendiri, tapi Ashar sepertinya ingin menjadi pihak yang berkepentingan. 
"Kau tahu, dekan sempat membicarakanmu, tentang surat keberatan yang kamu ajukan, gila loe Broth, jika benar ini tentang apa yang aku dengar dari pembicaraan dekan kamaren dengan Tuan Doktor Yang Mulia dan Terhormat si Malik, sepertinya surat itu memiliki keterkaitan, sebagai kawan aku juga ingin dapat  keterangan yang jelas dari sumbernya dong, bukankah kita sejawat, sepemikiran" Ujar Ashar, dengan mata yang tidak lepas dari surat yang ada ditangan Satya. 
"aku belum tahu kamu sejawat sepemikiran atau tidak!!!"jawab Satya dengan wajah datar
"ayolah Broth, cepat atau lambat, apa yang kamu sampaikan ke Yayasan akan diketahui semua, bukankah baik, jika apa yang kamu tuangkan dalam suratmu itu sejalan dengan apa yang kufikirkan atau sejalan dengan kepentingan banyak orang, orang-orang lemah Iman macam aku ini, bergelar tapi apalah, kalo kamu sudah memulai, artinya kegelisahanku dan boleh jadi yang lain menemukan alasan, karena kamu orang yang bertindak karena alasan, setidaknya nuranimu"Ashar menyelidik 
"jadi kegelisahanmu menjadi benar, karena aku bersurat? fatalistik kau broth"Satya menimpali. 
"kesalahan berfikir ini bisa terurai, kalo kamu berbagi" Ashar menangkis, diikuti senyum karena merasa telah membuat jawaban yang keren. 

Satya mengajak Ashar untuk ngobrol disalah satu Pendopo  (jika bisa disebut demikian) yang terletak di halaman kampus persis berada di bibir Pantai Samboja Indah. Ashar bergerak mengiringi Satya sembari matanya memendarkan pandangan kearah kampus, jika saja ada pihak-pihak yang bersebrangan dengan apa yang difikirkannya memantau dan menjadikan materi evaluasi kinerjanya sebagia dosen. Meski mereka bekerja di Perguruan Tinggi tapi  kebebasan akademik, kemerdekaan berpendapat dan berfikir kritis barang mahal, bahkan seharga dengan pemecatan. Sebagaimana lahirnya teori kelas, yang menang atas perebutan sumber kehidupan, menjadi penentu, selebihnya subordinat, kesetaraan atau masyarakat tanpa kelas harus direbut dengan perjuangan kelas. 


"Shar, berapa tahun kau bekerja disini?"
"1 (satu) tahun lebih tua dari kamu"
"Ok, berapa upah yang kamu terima di tahun pertama dan tahun keempat?"
"Yang masuk kerekening sejak tahun 2017 s/d 2020 nilainya sama, sebagiamana yang kamu terima, 2.150.000,--"
"Coba kau cek ini"Satya memberikan beberapa lembar kertas kepada Ashar
"Benar broth sudah 3 tahun ini gaji kita jauh di bawah upah minimum, gaji kita saat ini sama dengan upah minimum kota 5 tahun lalu, Tapi bukankah kita mendapat kelebihan pembayaran dari kelebihan jam mengajar" Reaksi Ashar membaca foto kopi surat keputusan penetapan upah yang diberikan satya. 
"jika demikian, bagaimana dengan dosen yang tidak memperoleh kelebihan jam mengajar, kau beruntung jika memperoleh kelebihan jam mengajar sehingga memperoleh tambahan pendapatan yang nilainya menjadi equivalen dengan upah minimum atau lebih, kemudian untuk saat libur kuliah apakah kita memperoleh gaji dengan nilai yang sama dengan upah minimum kota, jika logikamu kita gunakan, bagaimana dengan pegawai selain dosen"sambar Satya, Ashar hanya termenung. "itu satu hal, kedua, pernah kau hitung potongan jamsostekmu untuk tunjangan hari tua atau pensiun? 
"bah bah belum broth"
"beberapa bulan ini aku coba cari tahu tentang pembayaran Jaminan Sosial Tenagakerja jaminan hari tua yang dibayarkan Yayasan untuk kita, atau setidak-tidaknya saya, berdasarkan data Jaminan sosial tenaga kerja saya tentunya, kau Tahu upah dasar yang digunakan Yayasan  untuk menjadi dasar perhitungan? mereka menggunakan upah minimum yang ditetapkan tiap tahun" terang Ashar
"Bagus dong Broth artinya nilai preminya menjadi tinggi!!"
"Ayolah, logika ekonomimu jangan dianggurkan, aku kasih contoh deh tahun 2017 ketika kamu masuk, upah minimum kota ditetetapkan Rp. 2.500.000, kewajiban Yayasan dalam iuran JHT 3,7% dari upah, sendangkan kita sebagai pekerja 2% dari upah, artinya setoran Jamsostek JHT kita sebesar Rp. 142.500/bulan, dan "
"Artinya Yayasan tidak membayar yang menjadi kewajibanya broth, sebaliknya kewajiban Yayasan terkait dengan pembayaran iuran diambil dari selisih gaji yang tidak dipenuhi kepada pegawai. Gaji yang kita kita terima tiap bulan di tahun 2018 Rp. 2.150.000, 00 sedangkan Upah Minimum yang ditetapkan tahun 2018 Rp. 2.500.000, ada selisih sekitar Rp. 350.000,-- dikurangi total iuran JHT 5,7%  dari upah setidaknya Yayasan mengambil keuntungan kira-kira sebesar Rp. 208.000,--"Nalar kritis Ashar menuntun argumennya 
"Yes Bro, Jika kita kurangi lagi dengan iuran keikutsertaan program pensiun Jaminan Sosial Tenagakerja yakni 3% dari upah, terdiri dari 2% ditanggung Yayasan dan 1% ditanggu pekerja, maka total biaya perbulan untuk program ini sebesar Rp. 75.000,--  dari upah, masih ada selisih sebesar Rp. 133.000 yang diambil yayasan yang berasal dari tiap pegawai, jika nilai upah yang menjadi dasar program JHT dan Pensiun nilainya sama, yakni berasal dari upah minimum kota yang ditetapkan. sekarang tinggal hitung berapa orang yang bekerja di Yayasan, kalikan saja dengan selisih, ada surplus velue, nilai lebih, yang oleh Marks disebut dengan penghisapan sedang terjadi, ini gila" Terang Satya membakar, tetap dengan ekspresi yang terkendali. 
"itu selisih di tahun 2017 dengan UMK 2.500.000, tahun 2018, 2019, 2020, terus naik, artinya selisih yang diambil yayasan dari pegawai dan dosen makin besar dong? Apakah dimungkinkan secara hukum pegawai dan dosen menuntut kurang bayar upah mereka kepada Yayasan? " Ashar menggali lebih dalam 
"Begitulah penghisapan terjadi, Menurut pandangan Derma dan U-Man (baca You Man) memungkinkan bagi kita menempuh jalur hukum. Yayasan dapat diperkenankan tidak membayar upah sesuai UMK yang ditetapkan jika mengajukan permohonan penundaan pembayaran sesuai UMK, dalam riset kecilku Yayasan tidak pernah mengajukan permohonan penundaan pembayaran upah di bawah Upah Minimum"Terang Satya 
"Menurut Derma dan U-Man? Siapa mereka?"
"Advokat Samarinda, kami satu angkatan di kampus, termasuk sesama pengurus organisasi intera kampus. Menurut mereka Yayasan telah melakukan praktik mengalihkan apa yang menjadi tanggungjawabnya kepada Pegawai dan Dosen"Terang Satya 
"ini praktik yang tidak benar, awalnya aku menduga keberatanmu pada yayasan berdasarkan perhitungan jumlah mahasiswa yang terus bertambah, tidak berbanding lurus dengan kenaikan upah pegawai termasuk dosen, ternyata ada problem yang lebih serius, apa langkahmu"Timpal Ashar. 
"kawan-kawanku itu menyarankan untuk menempuh upaya persuasif dengan Yayasan, melalui proses bipartit terlebih dahulu, karenanya aku menyusun surat yang prinsipnya meminta kejelasan tentang hak-hak pegawai dan dosen, masalah yang kausebutkan tadi dan termasuk yang kita diskusikan saat ini merupakan materi dalam suratku" terang Satya, mendapat penjelasan demikian Ashar terpekur, matanya menerawang kelaut dihadapannya, entah apa yang difikirkan. 
"Broth, apa yang kamu lakukan benar, dan apa yang dilakukan Yayasan tidak dapat dibenarkan, meski demikian kamu harus menghitung lawanmu, Yayasan ini didirikan oleh orang-orang kuat, dosen-dosen senior bisa ngamen disana-sini, menjadi pengawas perusahaan daerah, tenaga ahli di pemda dan DPR kota karena jaringan mereka, resikonya kamu atau hmmmmm kita berhadapan dengan tembok yang kuat yang di topang keserakahan" Ungkap Ashar memecah sunyi diantara mereka.
"aku paham dengan resiko ini, kau tahu setiap berjumpa mahasiswa atau pada saat memberikan materi kuliah, rasa malu menghinggapiku, aku malu dengan mahasiswa yang kuajar, seharusnya kita sebagai Akademisi malu, apalagi dosen fakultas hukum pasti mereka malu, keadaan ini lambat laun akan menggerus integritas kita sebagai dosen, apa kita masih punya integritas? entahlah. Kau mungkin sudah mencium bau amis kekuasaan akademik, praktik dosen yang memperdagangkan relasi kuasa mereka dengan rupiah, merubah nilai, bagaimana lulusan ini kedepan, apakah USa hanya akan menjadi pabrik ijazah? apakah kamu masih bisa merasa bangga berstatus sebagai dosen USa dimasa mendatang?"Satya menerangkan kalimat-kalimat kontemplatif kepada Ashar, dada mereka berderuh berkecamuk bersama deruh gelombang dihadapan mereka, "kalo kamu masih berminat, bukalah"Satya memberikan amplop berkop Yayasan Pembaharuan Samboja kepada Ashar. 

----------

Sabtu-minggu Satya di Samarinda menginap di Kantor Hukum D&M Milik Derma dan Utama Mandala, hitung-hitung reuni sekaligus menagih kesedian kawan seperjuangannya semasa di kampus untuk memberi kuliah hukum khusus yang berkenaan dengan masalah yang dia akan hadapi. Secara bersama-sama mereka melakukan pemetaan masalah, sampai dengan menyusun rumusan instrumen hukum berkenaan masalah yang disampaikan Satya. Mereka menyusun teori kasus yang dituangkan dalam matriks. Pada matriks tersebut terdapat pemetaan kelompok masalah hukum pada USa, yakni: 1) Kelompok masalah hukum ketenagakerjaan; 2) kelompok masalah hukum pengelolaan kampus dalam hal ini hubungan antara YPS dan Rektorat. Kemudian terhadap setiap kelompok masalah hukum tersebut dipertentangkan dan dihubungkan dengan ketentuan-ketentuan peraturan perundang-undangan yang berkesesuaian, pada bagi bagian akhir terdapat keterangan upaya hukum yang dapat ditempuh untuk menyelesaikan setiap kelompok masalah hukum tersebut. 

Matriks tersebut menjadi bahan pegangan Satya untuk memenuhi undangan klarifikasi pengurus Yayasan Pembaharuan Samboja di hari Rabu. Satya  menduga undangan tersebut sangat berhubungan dengan surat yang diajukannya bulan lalu. Semua skenario telah dipertimbangkan, tentu skenario paling buruk yang menguasai dirinya dan menjadi titik fokus untuk diantisipasi. langkah sudah diambil, tidak ada jalan kembali selain menghadapi, Age Quod Agis, lakukan apa yang seharunya, kata-kata mentor mereka ketika aktif di kampus seperti bensin yang menyulut api dalam dirinya. 

-----------

Kabar tentang Satya dipanggil Yayasan Pembaharuan Samboja (YPS) menyebar cepat, ragam isu terkait pemanggilan terhadap dirinya mengemuka. Satya dituding sedang melakukan upaya meminta jabatan akdemik dengan mengancam akan melaporkan YPS sebagai badan penyelenggara pendidikan tinggi ke kementrian atas praktek tidak patut dalam hubungan kerja, isu lain menyatakan tindakan Satya melakukan tindakan yang akan menyebabkan banyak pihak yang bekerja di YPS dan USa  kehilangan pekerjaan, meski tidak sedikit yang menampik isu tersebut karena mereka mengenal pribadi Satya. Satya tidak ambil pusing, dia hanya fokus pada pertemuan hari rabu, meski ketika dia melangkah ke kampus nampak mata menyorotnya tajam, disisi lain mereka yang mengenalnya, termasuk mahasiswa yang mengikuti kelasnya  memberi dukungan. 

---------

Rabu, minggu ketiga dibulan agustus, angin laut berdesir semilir, tidak ada gelombang, air laut merayap lambat mengusap pantai, derunya seperti berbisik laksana senandung soft jazz pada ruang temaram yang dimainkan dengan penuh perasaan, tidak mengusik tapi memikat. Sebagaimana biasa Satya datang tanpa beban berlebih, pengalamannya selama menjadi aktivis mahasiswa yang aktif dalam berbagai forum debat dan diskusi membentuk dirinya menjadi tangguh, tenang dan menyala. Dia menyapa semua yang ditemui, menjabat mereka yang mengulurkan tangan, tidak ada yang berubah, disisi yang lain, Ashar dan beberapa kolega dosen justru yang nampak khawatir. 

Gedung YPS penyelenggara USa, berada ditengah kompleks kampus, tinggi menjulang menghadap pantai Samboja Indah, pada pintu lobby gedung tersebut terpapar sebuah kalimat pendek "Sahabat Bagi Kebenaran" motto YPS yang menjadi slogan USa tentunya, motto yang selalu didentangkan dalam setiap pertemuan resmi kampus dan kegiatan-kegiatan kemahasiswaan. Satya berhenti di pintu loby, ditatapnya motto tersebut untuk beberapa detik, kemudian melangkah menuju resepsionis untuk menyampaikan surat undangan, oleh Nita, resepsionis, Satya diminta menaiki lift ke lantai 9 (sembilan) menuju salah satu ruang pertemuan disana. 

Pukul 09.30, Bayu Arseto keluar dari ruang rapat dan meminta Satya memasuki ruangan, ketika pintu dibuka udara sejuk hasil dari olahan pendingin ruangan terasa menyambar kulit. Untuk pertama kalinya Satya masuk ke ruang rapat Yayasan, sebagaimana diungkapkan banyak kolega dosen ruangan Yayasan lebih nyaman dibandingkan ruangan rektorat atau dekanat. Terdapat meja terbuat dari belahan kayu bangkirai sepanjang 4 (empat) meter, dengan kursi kulit mengitarinya, warna putih biru sedikit aksen merah maroon melapisi dinding berpadu padan dengan lukisan cat yang indah. Jendela kaca transparan besar berada disisi yang menghadap ke laut, ruang ini begitu nyaman. Pada sisi meja yang memanjang telah duduk 3 (tiga) orang, pria paru baya kisaran 56 tahun, Ketua Yayasan, Arseto Jati, diapit manajer program akademi YPS yakni DR. Andi Asri, S.H., M.Si sebelah kirinya, berusia 45 tahun, dan Yosep Bongi, S.H., M.H, duduk disebelah kanan. Bayu Arseto disisi lain bertindak sebagai sekretaris. Ruang Rapat ini terhubung dengan Ruang Kerja Ketua yayasan. 

Berbalut baju batik berwarna cerah, celana kemeja berwarna gelap, tampilan ketua yayasan dan pendampingnya nampak berwibawa, berbeda dengan Satya yang berada diseberang mereka, mengenakan kemeja abu-abu lengan panjang digulung hingga siku, celana denim, dan sepatu warrior hitam,  dasi ramping bercorak merah hitam melingkar di kerah bajunya menjuntai rapih, tas Selempang bahan denim bercampur kulit andalanya ikut serta. Dua perbedaan penampilan memberi kesan adanya perbedaan kelas daintara mereka, tapi Satya merasa tidak terintimidasi dengan pakaian mahal yang dikenakan mahluk dihadapannya. 

"Saudara Satya, kami telah membaca surat saudara seksama, apa yang sudara keluhkan terkait dengan hak upah, dan terkait dengan YPS yang menurut saudara mencampuri urusan akademik, telah kami pelajar, dan kami merasa tidak ada pelanggaran sama sekali, sebagaimana yang saudara ketahui tidak ada satupun yang keberatan" Tukas ketua yayasan setelah membuka pertemuan dan memperkenalkan dayang-dayang yang menyertainya. "selain saudara tidak satupun mereka yang terdaftar bekerja untuk Yayasan keberatan"

"Tidak ada yang menyampaikan keberatan, bukan berarti Yayasan benar!!" potong satya 
"Saya belum selesai" Timpal ketua YPS
"Baik, Silahkan lanjutkan" 
"Kami telah meninjau pekerjaan saudara sebagai pegawai YPS, saudara masih muda, cerdas dan tentu saja punya prospek untuk USa, untuk saudara ketahui memang benar apa yang saudara terima dari YPS tidak sama besarnya dengan ketentuan UMK, akan tetapi sebagaimana dosen di USa, paling lambat 4 (empat) tahun, melalui jaringan yang kami miliki mereka mendapatkan pekerjaan tambahan diluar, menjadi tenaga ahli di institusi pemerintah sehingga beroleh pendapatan 3 sampai dengan 6 kali lipat dari gaji bulanan yang kami berikan, kami sedang meyiapkan jalur untuk saudara untuk kelevel itu" Terang ketua YPS dengan nada sombong, "satu lagi, untuk pekerjaan diluar YPS kami tidak pernah meminta bagian" sambungnya dengan sikap yang sama. Satya mendengarkan dengan seksama, sesekali dia menulis kata-kata kunci yang keluar dari mulut ketua YPS. 
"Baik terimakasih atas penjelasannya" Ujar Satya, ketika melihat bahasa tubuh ketua YPS telah menyudahi kalimatnya, "Pertama sebelum masuk gedung ini, saya membaca pada gerbang pintu masuk gedung ini tertulis "Sahabat Bagi Kebenaran" kalimat singkat yang menurut saya punya makna yang kuat, terdapat komitment mewujudkan sistem akademik yang benar, melahirkan lulusan yang benar, karena pengelolaan yang benar tentunya" Satya memberi jedah atas kalimatnya, sorot matanya ditancapkan pada lawan bicaranya, mereka tersambar dengan kalimatnya, "YPS sebagai penyelenggara pendidikan tinggi yang melahirkan USa hendak menciptakan institusi pendidikan tinggi yang berkomitmen pada "Kebenaran" atas dasar semangat itu saya menyampaikan surat saya,  menagih komitmen YPS pada kebenaran" lanjut Satya dengan kalimat terang dan lancar
"begini saudara Satya" DR. Andi memotong
"Hmmmmmm saya belum selesai, tapi saya bisa memberikan waktu jika pak Doktor mau bicara" Satya bereaksi, dengan emosi yang terkendali. 
"Bisa kita persempit diskusi kita ini? sebelumnya ketua telah menyampaikan, telah mempersiapkan saudara untuk masuk ke jaringan YPS, jadi Saudara tidak perlu lagi membahas sesuatu yang sudah kami baca dalam surat saudara, bagaimana?"
"Jika itu pilihanya, kita tidak menyelesaikan masalah" Tegas Satya, membuat lawan bicaranya terpojok. 
"Saudara Satya, jika keinginan saudara sebagaimana tertuang dalam surat ini kita wujudkan, ada kemungkinan keuangan kita tidak akan cukup" Yosep Bongi, kepala perencanaan anggaran YPS menimpali. 
"Terimakasih Pak Yosep, bagaimana kalo kita buka data yang dimiliki YPS, saya seorang Magister Ekonomi Pembangunan, saya bisa mengkalkulasi neraca keuangan tanpa harus mengamputasi hak-hak pegawai dan dosen, itu jika YPS mau memberi kesempatan, disisi lain jika memang keuangan tidak cukup, kenapa YPS tidak mengajukan penundaan pembayaran UMK, YPS tidak membayar UMK kurang lebih 5 tahun, disisi lain, dalam kurun waktu 3 (tiga) tahun saya mengabdikan diri sebagai Dosen disini, ada 5 Dosen yang pensiun, tidak ada pemenuhan hak pensiun mereka secara benar, mereka hanya memperoleh dana Jamsostek Program Pensiun, yang pada dasarnya berasal dari premi yang mereka bayar, terlalu tidak rasional ketika melihat kepercayaan publik begitu tinggi menitipkan anak-anaknya kuliah disini dengan biaya yang cukup mahal, akan tetapi dengan dalih para dosen memperoleh jaringan untuk mengamen lantas YPS tidak melaksanakan pemenuhan hak dasar, disisi lain bagiamana dengan pegawai diluar dosen, dari mana mereka mencukupi kekurangan?" Terang satya dengan suara lugas dan tegas. 
"Suadara Satya, kami telah mendengarkan Saudara, hasil pertemuan ini akan kami bawa kedalam rapat Pengurus YPS" Potong Ketua YPS 
"Terimakasih atas niat baiknya, saya juga merasa perlu memberikan ini sebagai bahan bagi Pengurus YPS dalam menggelar rapat" Balas Satya sembari menyodorkan matriks yang memuat tentang permaslaahan hukum YPS dengan Pengawai dan Dosen, dan Permasalahan Hukum YPS sebagai penyelenggara pendidikan tinggi swasta, Satya sengaja memberikan dokumen tersebut sebagai upaya intimidasi kepada YPS, terkait resiko hukum apa saja yang mungkin dihadapi YPS jika mengabaikan kewajiban hukum sebagai pemberi kerja dan sebagai penyelenggara pendidikan tinggi swasta. Nampak dahi ketua YPS dan dayang-dayangnya mengernyit. 

Pertemuan tersebut berlangsung lebih dari 2 (dua) jam, Satya merasa puas bisa mengutarakan apa yang dirasakannya sebagai masalah dihadapan pengurus YPS, dia tahu setelah ini akan ada hal besar yang mungkin terjadi, apakah pengeloaan YPS akan berubah, atau Satya yang boleh jadi tersingkir, tapi baginya dia telah melakukan apa yang seharusnya dilakukan sebagai seorang terpelajar Age Quod Agis.

Komentar

  1. Bipartit, terpekur, alhamdulillah kosakata baru.

    Terimakasih Senior.

    BalasHapus
  2. Terima kasih atas ilmu nya pak!

    BalasHapus
  3. Iming-iming untuk masuk jaringan YPS sepertinya penawaran yang menggiurkan, namun tidak menyelesaikan masalah. Panjang umur para insan idealis.

    BalasHapus
  4. Bravo satya! You are the best

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer