Tilang

Pagi itu cerah, beberapa hari ini awan menaugi mereka yang berpuasa, hujan datang silih berganti pagi, siang dan malam, meski tidak lama setidaknya menekan proses dehidrasi di masa-masa puasa.

Dengan sedan yang dibeli dari usahanya sebagai pemberi jasa hukum di Balikpapan, seperti biasa tanpa memperhatikan makhluk mungil, ingusan yang ada disampingnya sepanjang perjalanan menyusuri jalan Iswahyudi dari perumahan pondok karya agung menuju bandara dia terus bicara, tetang pandangan dunia, falsafah kehidupan dan tantangan kehidupan yang akan dihadapi anak yang masih ingusan yang persis berada disampingnya, disisi lain lelaki ingusan yang dalam beberapa tahun kedepan akan mewarisi kedikdayaannya sepanjang perjalanan hanya diam mencoba mencerna narasi-narasi besar yang keluar dari mulut Emaknya yang rempong.

Seperti dihujani peluru, tanpa bisa berkata-kata atau membantah, protes hanya jeritan tanpa suara, karena setiap kata akan berbalas dengan kalimat yang menghadapkan dia pada pagi yang panas meski suasana naung, maka diam memberikan perlindungan untuknya. Narasi-narasi besar tetang kehidupan, pandangan dunia, falsafah hukum yang diperoleh oleh Emaknya dalam menjalani kehidupan ditelannya meski dia tahu semua itu, karena terlalu sering menjadi topik kala jalan berdua, apalah daya, dia masih ingusan. Serangan bertubi-tubi itu menyebabkan dia kehilangan kesadaran menggunakan sabuk pengaman, lebih parahnya Emaknya sudah terlalu asik dengan seluruh ocehannya hingga hilang kesadaran, ekstase, sehingga lupa memperingati anak ingusanya itu untuk mempersenjatai diri dalam perjalanan dengan sabuk pengaman, hingga sampailah mereka pada satu keadaan yang tidak pernah sekalipun difikirkan si Emak. Untung tidak dapat diraih malang yang didapati, mereka masuk dalam perangkap tilang polisi.

Khotbah pagi yang lebih dari tujuh menit itu terhenti, mulutnya tersekat, ketika geromboloan polisi menghentikan derap langkah si sedan, si Emak yang berprofesi sebagai pemberi jasa hukum tentu tenang saja menghadapi yang beginian, sedangkan si anak yang menyadari situasi itu langsung semaput, belingsatan seketika kesadarannya tersentak, tanganya yang kurus kecil lagi ringkih itu dengan sigap menarik sabuk pengaman yang terdapat dekat dengan telinganya “klik,alhamdulillah terpasang” gumamnya lirih diikuti dengan air muka tegang, wajahnya yang hitam manis menjadi merah pucat, mulutnya kaku, lidahnya keluh, kakinya bergetar, dan kelenjar keringat pada tubuhnya dengan cepat menghasilkan cairan yang memenuhi badan, dia ketakutan setengah mati.

Creeeeeet, kaca mobil dibuka oleh si Emak
“ibu tahu kesalahan ibu?” kata petugas Polisi dengan baju dinas yang kesempitan, terlihat lemak tubuhnya menyembul dibeberapa titik dan hendak keluar dari balik kancing,

“saya tidak tahu apa kesalahan saya” kata si Ibu Muda itu enteng, meski disaat yang bersamaan dia sadar, kalo pria ingusan disampingnya lah penyebab dari persoalan, berkat pengalamannya berpraktek dibidang hukum yang hampir 20 tahun, dia tetap tenang,

“Ibu tahu anak ibu, dia tadi tidak pakai sabuk pengaman” kata si Polisi dengan sedikit mencondongkan kepala lebih dekat dengan lawan bicaranya, tercium aroma khas orang yang berpuasa yang tidak sempat santap sahur karena kesiangan, matanya liar memperhatikan Ibu muda itu, sembari memperhatikan pemandangan yang membatalkan puasanya,

“oh saya tidak tahu pak, jadi bagaimana urusanya pa?” kata ibu muda itu enteng, masih dengan ketenaganan di atas manusia biasa,

“Kalo begitu ibu saya tilang, mau bayar ditempat atau sidang, kalo bayar ditempat saya denda Rp. 250.000,--” kata Polisi dengan pandangan yang menjurus dengan nafas menderu didorong gejolak syahwat,

“saya pilih ikut sidang aja pa” kata si ibu Muda, mendengar jawaban itu raut wajah si polisi berubah, kecewa terpapar di wajahnya, tapi si Polisi berusaha tetap tegar, sejurus kemudian dia kembalikan kepercayaan dirinya.

"wah Ibu Kaca Matanya aja Rey Ban masa yang beginian pake ikut sidang" ujar si Polisi menggombal mengharap si Ibu Muda berubah fikiran, sembari mata menjelalati pemandangan didepannya
"Tetap pak, saya tetap mau Sidang, kan itu urusan saya" Jawab si Ibu Muda ketus

“kalo begitu saya akan buatkan surat tilang, dan STNK ibu saya tahan” katanya mencoba tegar dan tetap mengintimidasi, dengan tetap berharap si ibu Muda berubah fikiran untuk bayar di tempat.

“Kok STNK saya, biar SIM saya saja yang bapak tahan” kata si Ibu muda dengan nada suara yang sedikit meninggi, diikuti percikan liur yang mengudara dan mendarat di bibir si polisi, diikuti gerakan lidah si polisi menyapu bibir dan menelan liur tersebut
“saya minta identitas ibu” kata polisi sembari menenggak liur tersebut,

“ini pak” kata si ibu Muda kali ini tanpa liur yang mengudara, yang sebenarnya diharap-harap si Polisi terulang tapi apalah daya kenikmatan ternyata hanya sekali

“Ibu Advokat, pantas saja, sim ibu saya tahan,ibu silahkan hadir dalam persidangan pada hari jumat mendatang ya” kata polisi kali ini dengan kewibawaan yang terlambat,

“baik, saya akan sangat senang sekali” kata si Ibu Muda ini dengan riang gembira, si anak ingusan yang sejak tadi terdiam kaget dengan tingkah mamanya yang begitu bahagianya dengan permasalahan hukum yang dihadapi,

“Ibu silahkan jalan, lain kali lebih tertib ya” kata pak polisi dengan wibawa yang terlambat, "lain kali sikat gigi sebelum berangkat kerja" kata ibu muda itu pelan, sembari menutup jendela mobil miliknya.

Perjalanan pun berlanjut, tanpa konfirmasi dari si lelaki ingusan disampingnya, yang masih shock oleh dua hal, pertama kena tilang, takut dipersalahkan mamanya dan kedua shock berat dengan kelakukan mamanya yang senang dengan status terdakwa melakukan tindak pidana ringan, situasi yang membuat anak ingusan itu tidak berani bicara bahkan menarik ingusnya sekalipun yang sudah menjulur mendekati bibir.

Catatan:
Tulisan ini hanya karangan belaka, tidak bermaksud untuk menyinggung pihak-pihak terkait, berwenang atau yang memiliki wewenang, hanya untuk menghibur.

Komentar

Postingan Populer