Alifa Iustitia Zhahira

Aku belum benar-benar terlelap ketika Istri membangunkan "Sepertinya harus siap siap bang, sakitnya sudah semakin sering" ujarnya dengan wajah meringis menahan sakit sembari memegang perut, tidak butuh waktu lamu untuk sampai ke puncak kesadaran, aku langsung bangkit, menyiapkan kendaraan, pukul 02.30 setelah semua siap kami bergerak menuju Rumah Sakit Islamic Center, tidak jauh dari rumah, meski kurang tidur kantuk tidak menyerangku. Kendaraan kupacu dengan sangat lambat untuk mengurangi benturan yang akan mempercepat proses kelahiran yang dapat terjadi ditengah perjalanan, kulantunkan puja-puji pada wali nikmat. 

Pukul 03.00, kami sudah berada di muka pintu masuk rumah sakit, dengan hati-hati menemaninya menuju ruang persalinan, ini persalinanya yang ketiga, kali ini tidak dikampung halaman istri, kami di kota Samarinda, ditengah pandemi yang masih merebak, nyaris kami berjuang dengan kekuatan sendiri, berbeda ketika kelahiran dua putri sebelumnya, dikampung halaman istri kala kata covid-19 belum tercipta, armada dengan kekuatan penuh yang berasal dari tetangga-saudara, berduyun bergelombang turun tangan.  Karena setiap detik menyaksikan Istri mengerang kesakitan menyebabkan waktu terasa bergerak lambat-sangat lambat "aku minta rela minta ridho ya bang" kalimat itu keluar dari mulutnya menyebabkan rasa ngeri menyambarku, bisa kubayangkan kepedihan yang menghujam tubuhnya, wajahnya memucat menahan perih sembari melantunkan "sholawat "yang tak putus, aku membersamainya. 

Dua bidan yang membantu persalinan sesekali mengecek jalur keluar bayi, sembari mengukur pembukaan kelahiran "sudah bukaan lima"ujar salah satu bidan, "atur nafasnya ya bu"ujar bidan dari ruangan lain, dengan santai, ya, mereka sudah menghadapi peristiwa demikian terlalu sering, sehingga kengerian tidak memendar, bisa dibayangkan jika mereka panik, akan fatal tentunya. Pada pemeriksaan ketiga, salah satu bidan menyampaikan "sudah siap" bersamaan dengan itu istriku mengerang hebat, dalam keadaan terlentang, kemudian bidan menaikan sandaran kepala meja bersalin "kakinya ditekuk lalu dibuka, kedua tangan taro menggenggam paha, mata menghadap keperutnya ya bu, bapa bisa bantu untuk menekan pundaknya saat  ibu mengejan" instruksinya singkat dan terukur, aku manut, tidak memungkinkan bagiku beradu argumen saat itu, apalagi mengecek kualifikasinya memberi isntruksi padaku. 

sekitar 30 menit kurang lebih, bidan menunggui disisi kanan dan kiri sembari memberi instruksi, "tarik nafas panjang, lalu dorong" berkali-kali kata itu keluar dari bidan setiap melihat reaksi kontraksi istri, setiap istri berucap "Allah", kubalas "Ya Rasulullah Adrikni" bertalu-talu, sampai sempat aku membayangkan kedua bidan itu boleh jadi tertawa dalam hati, "suami istri sedang kasidahan", "terus bu, sudah keluar kepalanya, jangan berhenti, tekan terus, ayo bisa-bisa bu, ayo sayang bisa, bisa, bisa dorong terus"ujar kedua bidan berganti-gantian seperti suporter bola, untung saja tidak ada genderang pengiring yang memekak mendebar dada, meskipun demikian dadaku berdebar kencang, ketika melihat kepala itu nampak, rambut hitam lebat basah oleh lendir dan darah, "terus bu, dorong terus jangan berhenti" teriak bidan yang berada di sisi sebelah kanan yang saat itu bertugas menyambut kedatangan bayi, yang sedang berpindah dari alam rahim ke dunia. 

Setiap detiknya benar-benar menegangkan, menakutkan, takjub dan ajaib. Menegangkan sekaligus menakutkan ketika kepala bayi sudah berada diluar pintu keluar, kemudian konstraksi terhenti dan istri nyaris kehilangan tenaga sontak kedua bidan kembali menggelorakan kalimat heroik "dorong bu, bisa bu, ayo dorong" menyamarkan suara Tarhim yang berkumandang dari masjid, bayi sempat terlilit tali pusar pada bagian leher, dengan cepat sang juruselamat menggesernya sembari menarik bayi keluar, bersamaan dengan energi terakhir yang dilepaskan istri, mendorong ditengah kontraksi yang terhenti, dibantu dengan tarikan badan bayi oleh bidan "slurup" suara tarikan bayi ketika terdorong dan ditarik keluar, benar-benar ajaib dan menakjubkan. 

Kupalingkan wajahku pada jam dinding yang terletak dibagian kepala istri, tepat pukul 04.45 bayi keluar seuntuhnya seluruhnya, membisu, berwarna kebiruan, bidan pada sisi sebelah kiri kemudian mengecek jantung dan mengusap-usap tubuhnya, dan tangis pertamanya meledak, kehidupan baru terlahir di tanggal 08 februari 2022, bayi perempuan dengan rambut lebat dan gempal, beratnya 4100 gram, panjang badan 52 cm, lingkar kepala 35 cm. Ahlan wa sahlan. 

xxx

Kami belum benar-benar mempersiapkan namanya, meski pada usia kehamilan 5 bulan sudah mengetahui jenis kelaminya, dalam setiap kesempatan mengelus perut istri pada masa kehamilan, aku memanggil "Ya Zahra" pererempuan agung, penghulu perempuan, bukan sekedar nama melainkan wahyu, karena nama yang keluar dari sang pembawa wahyu, awalnya kurekomendasikan nama "Iustitia Zakkiya", ketika nama itu kusampaikan dihadapan Zakiyya, kakaknya, "kok sama dengan aku harus beda, ada namaku dan kaka didalamnya tapi jangan Zakiyya, tapi kata kedua huruf Z, jadi ada Zahra, Zakiyya, dan z satu lagi" protes bersyarat. "bagaimana dengan Alifa Zhahira, tapi bapa mau ada istilah hukumnya", "bagaimana kalo Alifa Iustitia Zhahira, tapi tidak masalahkan Al (panggilan kami untuk Aliya Zakiyya)" ujar istri menengahi, "Gak apa, ada namaku, ada nama kaka juga meski gak mirip amat, ada nama yang bapa mau"ujarnya sembari memendar senyum, maka jadilah Alifa Iustita Zhahira, nama yang disematkan pada perempuan baru yang mengisi dunia sejak tanggal 08 februari 2022. 

Secara Gramatikal:  
Alifa memiliki arti (1) lembut (2) penurut (3) sabar (4) ramah tamah dalam bersahabat 
Iustitia memiliki tiga macam makna yang berbeda, yaitu: (1) secara atributif, hukum berarti suatu kualitas yang adil, (2) sebagai tindakan, hukum adalah tindakan yang menentukan hak, ganjaran atau hukuman, (3) dari segi pelaku, hukum yaitu pejabat publik yang berhak menentukan persyaratan sebelum suatu perkara diajukan ke pengadilan
Zhahira memiliki arti (1) jelas, (2) unggul (3) menang

Sebagaimana semua nama adalah pemberian sekaligus harapan makan berdasarkan gramatikal kata pada namanya kami memberi makna Alifa Iustitia Zhahira sebagai sosok yang lembut dalam memenangkan keadilan. 

Salam





Komentar

  1. What a cool name.. selamat datang ke dunia Alifa lustitia zhahira

    BalasHapus
  2. Barakallahu fiikum.. semoga Alifah menjadi anak yang sholehah dan qurrotu a'yun buat ayah dan bundanya. Amin yaa rabbal alamin

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer