Peluh Terakhir (Part 2)

Selasa, 5 Oktober 2010
Pukul 13.40 Waktu Kampus UNIBA

2 hari menjelang wisuda (2-H), dengan pakaian hem warna abu-abu lengan panjang (pinjaman fajrin) dilngkapi dengan dasi bewarna biru (pinjaman Ahmad Fitriady), dan dalaman bawah (pemberian Ahmad Kurniawan), celana kain hitam dan jas biru dan sepatu hitam mereka JK (pinjaman Muhammad Ayyub, S.H) saya melangkah keruang sidang seminar 3. Perasaanku seperti seorang badut yang sedang mempertontonkan kelucuan kepada orang lain yang melihatku, begitulah karena pakaian seperti ini asing bagiku, jauh dari yang kufikirkan karena tidak pernah melesat difikiranku menggunakan pakaian parlente seperti ini, yang menurut orang-orang dikampungku pakaian parlente itu biasanya digunakan oleh bos, pengusaha dan petinggi-petinggi Negara. Hanya fikiran dan mental yang kebetulan tidak kupinjam dari orang lain, itu yang sejak dulu kupunya dan kupelihara.

Ayyub, sudah menyalip sehari sebelum hari ini, dia sudah bergelar sarjana dengan Nilai A (selamat), sebuah upaya yang diperoleh dengan keteguhan dan kegigihan yang tidak separuh hati, dan hari ini menunggu giliran: Aku, Ahman Fitriadi, Ahmad Kurniawan dan Siti Nur Asiah Afrikiah, terhenyak dalam fikiran sendiri-sendiri untuk mempersiapkan tangkisan,: klarifikasi, jawaban dan riferte, dan rekonvensi. Sedangkan aku, hanya mengharap Allah SWT Tuhan pelindung orang yang memohon perlindungan untuk melindungiku dari gelanggaang kawah candra dimurka, gelanggang tenpat para petarung dilahirkan, gelanggang yang memperopduksi orang-orang yang siap mengabdikan dirinya menjadi insan yang Jujur, Tegas dan Berani macam tulisan Pong Harjatmu di Atap Gedung DPR RI.

Tiba giliranku, pukul 14.30,
Memasuki gelanggang kawah Candara dimurka dengan hati yang tidak karuan dan ketenaganan yang dipaksakan, kutatap satu persatu pendekar-pendekar yang telah berjajar rapi di balik meja, dalam fikiranku kulihat senapan otomatis (beren) telah berada dalam genggaman mereka yang siap membanjiri kepalaku dengan pertanyaan-pertanyaan bak Bah Bandang. Kutatapi mata mereka satu-persatu untuk sekedar menghilangkan kegugupanku, tatpi sebaliknya mata-mata itu begitu garang, tak bersahabat dan siap menterkam, mereka bak pemburu lapar, keadaan ini membuatku panik tak berdaya, lututku kendur seperti tak sanggup menopang tubuh, dengan Sholawat dan Istighfar serta kiriman doa dari istri, anak dan handai taulan akhirnya energy bertahanku muncul bertahan diruangan yang saat itu dingin tetapi tidak menghalangi keringat tubuhku yang menderas. Puh.

Pertanyaan, satu demi satu kujawab dengan berbagai keadaan, ada yang tidak kumengerti maka kukatakan pas atau kucoba jawab sekemampuan nalar hudhuri, yang kuketahui dengan lisan yang lantang seperti menantang pemberi jawaban kukeluarkan semua yang kuketahui, seperti itu berulang-ulang. Alahamdulillah berkat pengalaman organisasi dan kebiasan berdiskusi dengan berbagai teman cukup membantuku mengatasi situasi yang pelik ini, cukup membantuku untuk mampu memberikan jawaban dari yang straight to the point, sampai yang harus ngalor ngidul (ngeles, sofis, apologis).
Ada pertanyaan-pertanyaan yang seperti badai, merontokan kepercayaan dan keyakinan diri, ada pertanyaan yang seperti angin putting beliung membuat pusing tujuh keliling sehingga harus dikonfirmasi, adapula pertanyaan seperti air beriak tanda tak dalam, yang senyap tetapi menghanyutkan dan menenggelamkan (beruntunglah aku bisa berenang). Bagaimanapun keadaan ini memberikan pembelajaran penting dan berharga. Seperti kawah Candara di murka tempat penempaan para kesatraia menjadi dewa, semoga proses ini bisa melahirkan kami menjadi dewa.

Keluar Dari Ruangan
Sekitar pukul 15.35 Wita, saya keluar ruangan, Alhamdulillah meskipun belum mengetahui isinya tetapi ini membuat saya lega, lega karena saya menyadari kekurangan saya dalam memahmi Hukum, dan lega karena bisa melalui titik akhir yang menurut banyak orang angker dalam menyelesaikan studi, tidak heran di fakultas hukum perbandingan jumlah mahasiswa yang masuk dengan jumlah mahasiswa yang keluar berbanding terbalik, sangat sedikit mahasiswa memilih untuk menyegerakan lulus, kecuali telah diancam di DO atau berhenti ditengah jalan.
Saran saya, untuk kawan-kawan yang ingin menempuh kuliah maka aktif di organisasi karena akan sangat membantu dalam proses-proses menghadapi setuasi seperti ini, kecuali anda mau lulus dengan catatan karena factor ancaman Drop Out. Terus belajar, dan yakinlah bahwa siapa yang bersungguh-sungguh dia akan berhasil dan yakin usaha sampai.

Salam

Hari Dermanto
Masih diselimuti ketegangan menantikan penilaian penguji

Komentar

Postingan Populer