Berdebat dengan Ustadz

Beberapa waktu lalu seorang teman mengajak saya bergabung di grup Blackberry namanya Muslim Yang Cerdas, degan moto Generasi baru, Istiqomah dalam Amanah. tidak terdapat diskusi hanya tanya jawab sekolompok anak muda kepada seorang Ustadz “muda” yang cukup terkenal di balikpapan, karena aktifitasnya yang banyak, dia creator sebuah radio Islam, aktif sebagai pembicara pengajian lokal, interlokal bahkan menurut beberapa pengagumnya dia kerap kali mengisi ceramah di luar negeri.

awalnya saya hanya mengikuti kegiatan diskusi di Grup ini tidak intens hanya jadi pembaca dan sesekali mengomentari atau memberi kutipan-kutipan hikmah, sampai tiba di jumat malam saya membaca postingan seorang anggota grup berupa hadist yang mengungkapkan bahwa ungkapan para sahabat nabi adalah Sunnah “alaikum bisunnati wa sunnata khulafaur rasyidina al mahdiyyina min ba’diy” yang artinya hendaknya kalian memegang sunnahku dan sunnah khulafaur rasyidin setelah ku.

kemudian atas dasar hadist ini anggota grup tersebut membuat kesimpulan bahwa perbedaan para sahabat nabi (khulafaur rasyidin) dalam menjalankan sholat tarawih adalah bukan persoalan, dengan merujuk pada hadist tersebut maka memilih ketetapan abu bakar yang tidak menjalankan secara berjamaah atau memilih umar yang menjalankan secara berjamaah adalah sama dengan menjalankan sunnah.

postingan anggota tersebut menimbulkan reaksi pribadi saya, kemudian saya menyampaikan pertama saya meragukan kebenaran kesimpulan si pemosting yang mengungkapkan terserah untuk memilih sholat tarawih yang mana apakah sendiri seperti abu bakar atau berjamaah seperti umar, saya membatah dengan kaidah logika bahwa dua hal yang berbeda mustahil keduanya benar yang mungkin adalah salah satunya benar (berarti yang lain salah) atau keduanya salah, kedua kesimpulan anggota grup tersebut saya ungkapkan sebagai upaya menutup ruang kritis terhadap sejarah, bahwa ketika sahabat (khulafaur rasyidin) melakukan perbuatan yang bertentangan dengan Al-quran sekalipun dengan menyandarkan hadis tersebut perbuatannya dapat dinilai sunnah. Dengan dua diktum tersebut kemudian saya tegaskan bahwa hadist tersebut meragukan bagi saya.

untuk mempertegas bahwa kesimpulan sahabat bukanlah sunnah kemudian saya tanya “apakah sahabat suci, terjaga dari berbuat dosa seperti rasul” kemudian dia menjawab “tidak”, “andapun meragukan kesucian sahabat kenapa bisa meyakini bahwa kata-katanya bisa menjadi sunnah,bagaimana mungkin yang tidak terjaga kata-katanya menjadi panutan, kesimpulannya yang menyatakan sahabat tidak terga dari perbuatan dosa, secara tidak langsung mengkritik hadis yang dia kemukakan tersebut.

sontak jagat Grup Muslim Yang Cerdas menjadi rame, setidaknya karena arguemntasi yang saya buat menyebabkan saya berdiskusi dengan orang yang memposting hadist tersebut dan beberapa teman hingga waktu mendekati sahur (jam 2 dini hari), jari jemaripun dilelahkan karena diskusi tersebut, dan diskusi tersebur ditutup dengan ungkapan penyampai hadis semoga kita mendapatkan hidayaNya.

pagi harinya sekitar jam 8 pagi, setelah lelah bergumul semalaman, jagat grup Muslim Yang Cerdas kembali bergemruh, diriuhkan oleh komentar Ustadz “F” yang menjadi tempat bertanya kami-kami yang bergabung dengan grup tersebut, bukannya memberikan jawaban, si Ustadz “F” dibalik kesibukannya yang padat menyempatkan untuk berkomentar panjang x lebar x tinggi, mengulas perdebatan semalam, bahwa tidak semua hal harus dibahas dengan logika ada hal-hal yang tidak perlu dijelaskan dengan logika katanya, tetapi tidak jelas batasannya.

untuk menguatkan jawabannya dia menggunakan contoh hal-hal tidak logis yang menjadi praktek Islam “Syiah” tentang Imam Mahdi yang menghilang dan sebagainya, sampai akhirnya dia menuduh saya sebagai seorang syiah. bukannya menjawab mengenai dua diktum saya dia menggunakan sentimen mazhab untuk menutup ruang diskusi. dengan ketus saya sampaikan ” susah mau membangun Muslim Yang Cerdas, ketika berdiskusi dengan logika, kita (yang berlogika) di labeli mazhab yang di Indonesia dituduh sebagai mazhab sesat (syiah, red)” . bukan mendapat jawaban saya malah mendapat tuduhan.

mungkin itu sekelumit cerita saya, dibulan penuh berkah dan ampunan ini.

salam

Komentar

Postingan Populer