Keluar Dari Zona Nyaman?

salam,

pantaslah kau marah padaku, kupahami itu, di saat kondisi Raisah Zahra dalam keadaan sakit, aku malah bersenang-senang, pantaslah kau marah padaku, bahkan marah yang paling murka dari seorang Istri, ditengah tekanan eksternal yang mencampuri urusanmu mendidik Raisah Zahra, aku tidak tampil sebagai pelindung yang menyelamati keadaan, atau setidaknya berbagi kesusahan denganmu, pantaslah kau marah padaku sayang, udah 4 tahun usia pernikahan kita, belum ada tanda-tanda bahwa aku pantas dikatakan suami, ayah yang melindungi, memberi kehangatan, kebahagiaan, teman berbagi harapan disaat pagi, dan teman berbagai cerita disaat petang, pantaslah kau membenciku karena egoku yang cenderung lebih dominan didahulukan dari pada kepentingan kita, aku sadari itu, dan aku malu karenanya.

sayangku, bukan maksudku membuatmu marah, sedih dan merasa diabaikan. puh sungguh sulit memberi alasan karena memang kusadari setiap alasan tidak ada yang mampu membenarkan tindakanku, setiap alasan hanya mempertegas satu hal yakni egoismeku. entah apa yang salah, apa yang harus di edit untuk kita merekayasa kehidupan kita, aku akhir-akhir ini menjadi orang yang tidak berani menerima tantangan Tuhanku, aku gak berani menjawab Labaika ya Allah atas janjinya kepada mereka yang berumah tangga.

padangan negatif seolah menguat dialam fikiranku, kata-kata Manjadda wa jada (siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil) seperti kata tanpa makna lagi, fikiran negatifku telah menjadi batas imaginer yang menghambat diriku aku merasakan itu, ingin berontak dari keadaan ini, ketakutanku seperti terkabul membunuh potensi keberanianku, Allah sepertinya menguji prinsip-prinsipku, dan aku nyaris seperti orang yang hanya pandai memainkan kata-kata tanpa mampu mempertanggungjawabkan, ataukah aku seperti sufi dalam kisah Rumi.

Sayangku, aku merasa seperti kaum yang ditegur oleh Allah dalam kitabnya, kaum yang ingin mendapatkan perubahan tanpa mau berusaha, mungkin aku kufur, atau selama ini aku menghamba bukan padanya, sehingga hati ini menjadi kering, hati ini tidak mampu menggerakan badan ini kearah kemajuan. sayangku, aku minta maaf kepadamu terkait kelakuanku kemarin aku malu, aku merasakan sakit hatimu melalui pesan singkat yang kau kirimkan "tega kamu yang, mau acara ketempat yang ga ada signalnya ga ngasih tahu dulu ke istrimu, sampai hatimu melupakanku sedemikian rupa. pantas gak bisa pulang, sakit hatiku diperlakukan begini, tanpa pamit, tanpa kabar, tanpa berita. berbahagialah kamu dengan teman-temanmu di bukit bangkirai.sampai anakmu sakit kamu gak perduli, sampai hati kamu melupakan aku."

pesan singkat itu menyodok kesadaranku, kelaki-lakianku, kebapakanku, meingatkanku dan mengkoreksi kesadaranku, kelaki-lakianku sebagai suami dan kebapakanku sebagai seorang ayah. sayangku, aku galau seperti kehilangan harapan hidup (hopeless), aku merasa semakin lemah puh, apa yang harus kulakukan sayang untuk mengatasi keadaanku, sulit rasanya hidup berjauhan dengan kalian, aku merasa berjauhan dengan kalian membuatku tidak terkontrol, aku merasa nyaman dengan hidup di balikpapan tapi menjadi tidak nyaman tanpa kalian. puh

Hijrah, berpindah, dari satu keadaan pada keadaan lain, apakah aku termasuk orang yang tidak mampu keluar dari zona nyaman, tapi apa zona nyamanku?, apakah apa yang selama ini kuperjuangkan di LBH adalah zona nyamanku sehingga aku tidak cukup berani mengambil ruang diluar itu, apakah hidup di balikpapan adalah zona nyamanku sehingga aku gak berani untuk hidup disana memulai sesuatu yang baru? Atau aku memant tidak mampu bergerak keluar dari zona nyaman karena tidak berani menerima perubahan-perubahan sebagai konsekuensi meninggalkan zona nyaman, atau yang lebih ekstrem mungkin jauh dari kalian adalah zona nyamanku sehingga aku tidak memiliki keberanian untuk keluar dari kungkungan mertua (orang tuamu) dan membawa kalian pada kehidupanku. huh sayangku aku seperti katak dalam tempurung.

sayangku, adakah hal yang ingin kau sampaikan padaku, karena kau adalah istri, mitra dan teman hidupku terkait dengan bagaimana aku, kita harus menata hidup?

Balikpapan, 6 Desember 2010

dalam disorientasi tingkat tinggi, kehilangan keberanian


HD
ya Allah, aku berharap padamu kuatkan tubuh lemahku ini

Komentar

Postingan Populer