Korban Pembangunan

siapakah yang bisa menolong mereka???

Tanggal 7 desember 2010, sebelum pulang ke Batu Kajang, aku mampir kerumah seorang kawan kebetulan seorang ketua rukun tetangga (RT) di Desa Rangan, Kecamatan Kuaro, Kabupaten Paser, Sapriansyah. Sebelumnya tanggal 2 Desember, istrinya, Yurni, yang juga teman saya mengirimkan pesan (sebut, SMS) dan menceritakan bahwa lantai bawah rumahnya tenggelam karena proyek perbaikan jalan Provinsi oleh dinas Pekerjaan Umum Provinsi.

Aakupun mampir untuk memastikan kebenaran SMSnya, kudapati lantai bawah rumah sahabat saya tersebut tergenangi air sehingga ruangan lantai bawah rumah yang baru dibangun tersebut tidak dapat difungsikan, sumur yang berada di lantai rumah sudah tak dapat digunakan lagi, kebun sayur yang berada persis dibelakang rumah hanya terdiri hamparan air yang lumayan luas dengan kedalaman sampai dengan 3 (tiga) meter.

Menurut penuturan mereka (Sapriansyah dan Yurni), saat pembangunan jalan provinsi yang tepat berada di depan rumah mereka akan dilaksanakan, mereka sempat mengingatkan kepada pelaksana proyek kalo pembangunan jalan tanpa disertai perbaikan gorong-gorong yang tepat berada di bawah badan jalan rusak tersebut hanya akan menyebabkan banjir. Peringatan yang disampaikan mereka pada awalnya diabaikan oleh pelaksana proyek dengan mengatakan "anggaran proyek ini tidak termasuk pembangunan gorong-gorong". Jawaban dari pelaksana proyek tersebut melahirkan reaksi keras mereka, sehingga pada akhirnya pelaksana proyek melakukan perbaikan terhadap gorong-gorong yang berada dibawah badan jalan yang rusak tersebut. jalan-jalan tersebut amblas (rusak) disebabkan gorong-gorong yang tepat berada dibawah badan jalan tersebut runtuh (rusak).

Menurut pelaksana proyek, penggantian gorong-gorong tersebut dilakukan atas inisiatif Pelaksana Proyek dengan uangnya sendiri (pelaksana proyek tidak diketahui secara pasti, karena pada saat pengerjaan tidak terpasang papan informasi proyek). Penggantian gorong-gorong yang dilakukan pelaksana proyek tidak memuaskan hati mereka, karena kualitas gorong-gorong pengganti, tidak sama besar dengan gorong-gorong yang terdahulu, dan dipasang dengan tidak rapat, sehingga jalan kembali rusak belum lama setelah diperbaiki.

Menurut pemaparan Yurni, sejak perbaikan jalan tersebut selesai ketika hujan air selalu menggenang, puncaknya sekitar tanggal 2 November 2010, hujan deras melanda kuaro, akhirnya lantai bahwa rumah mereka tenggelam. mengingat kondisi tersebut akan menjadi ancaman jika dibiarkan maka pada tanggal 4 November 2010, Sapriansyah menghubungi Nasir Eva Marukh anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Paser Komisi I, yang kebetulan orang kuaro dan berasal dari daerah pemilihan kuaro, sore harinya pas Nasir Eva marukh mendatangi lokasi dan mengambil gambar, tanggal 17 November untuk kedua kalinya Nasir Eva Marukh kelokasi untuk memastikan apakah keadaan berubah atau tidak.

Pada tanggal 3 Desember (sebulan lamanya rumah mereka tenggelam) akhirnya mereka mengadu ke Kecamatan Kuaro, tetapi oleh petugas kecamatan mereka diminta untuk meminta surat pengantar permohonan dari Desa Rangan yang ditujukan ke Kecamatan yang isinya meminta penyelesaian persoalan yang dihadapi keluarga Sapriansyah tersebut. mereka juga sempat melakukan pengaduan di Kring Bupati pada harian kaltim Pos, hingga saat ini belum ada hasil. Pada hari Senin, 13 Desember 2010 terdapat pemberitaan tentang rumah mereka di kaltim post, tetapi isi berita tersebut tidak terdapat inisiatif pemerintah untuk mengatasi persoalan tersebut, kata seorang wakil PU dalam harian tersebut perbaikan gorong-gorong tidak dapat dilakukan karena tidak ada pos Anggaran.

Kudapati wajah pasangan suami istri (orang tua dari 2 orang anak) tersebut tertegun tidak percaya kenapa pemerintah tega berargumentasi seperti itu. "apa perlu anak kami yang kecil-kecil tenggelam terlebih dahulu baru mereka peduli" gumanya, "kenapa terhadap orang kecil seperti kami tidak ada keadilan, ingin rasanya saya bongkar jalanan itu" keluhnya, sedikit putus asa.

Menurut mereka, hujan seperti hantu bagi mereka, selalu menimbulkan kekhwatiran, kalut bercampur takut. hujan adalah ancaman terhadap harta benda mereka, rumah mereka yang berada di bagian atas akan tenggelam, ancaman terhadap nyawa kedua anak mereka (semoga saja tidak terjadi). Ketika hujan bagi sebagian orang adalah rahmat, bagi mereka saat ini adalah bencana.

siapakah yang mau menolong mereka????

ketika tulisan ini dibuat tanggal 22 desember, Sapriansyah kembali mengirimkan singkat kepadaku bahwa di daerah mereka saat ini hujan deras dan mereka tidak bisa tidur, dihantui kekhawatiran dan kegetiran, inikah pembangunan? apakah karena untuk kepentingan mayoritas pada akhirnya kepentingan minoritas terabaikan?



Komentar

Postingan Populer